JAKARTA - Rencana pemangkasan produksi batu bara nasional menjadi sekitar 600 juta ton dalam RKAB 2026 memicu perdebatan di pasar energi. Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) menilai kebijakan itu belum tentu menaikkan harga batu bara secara signifikan.
Direktur Eksekutif APBI, Gita Mahyarani, menekankan pasar batu bara bersifat global dan sangat responsif terhadap perubahan pasokan. Setiap penyesuaian produksi dari salah satu negara produsen akan diikuti oleh pencarian alternatif pasokan oleh pasar internasional.
Menurut Gita, negara-negara konsumen utama seperti China dan India memiliki cadangan dan kapasitas produksi domestik yang besar. Hal ini memungkinkan mereka meningkatkan produksi sendiri jika harga mulai naik akibat pengurangan pasokan dari Indonesia.
“Negara-negara konsumen utama yang memiliki cadangan dan kapasitas produksi domestik, seperti China dan India, dapat meningkatkan produksi dalam negerinya. Selain itu, pembeli juga memiliki opsi pasokan dari negara produsen lain,” ujar Gita, Senin, 12 Januari 2026.
“Karena itu, pengaruh terhadap harga tidak bersifat linier dan tidak bisa dilihat hanya dari sisi Indonesia,” tegasnya. Pandangan ini menjadi penting mengingat harga batu bara sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar global.
Meskipun begitu, Gita mengaku belum bisa memproyeksikan rentang pergerakan harga batu bara ketika produksi Indonesia dikurangi. Situasi ini mencerminkan kompleksitas pasar batu bara yang dipengaruhi banyak faktor di luar kendali nasional.
Produksi Batu Bara Nasional dan Target RKAB 2026
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebelumnya mengungkapkan target produksi batu bara dalam RKAB 2026 akan dipangkas menjadi sekitar 600 juta ton. Target ini lebih rendah dibanding produksi tahun lalu yang mencapai 735 juta ton.
Bahlil menegaskan bahwa angka target produksi tahun ini belum final. “Urusan RKAB, Pak Dirjen Minerba lagi menghitung. [Hal] yang jelas di sekitar 600 juta. Kurang lebih. Bisa kurang, bisa lebih dikit,” kata Bahlil pada Kamis, 8 Januari 2026.
Menteri ESDM berharap pemangkasan produksi dapat mendorong harga batu bara naik. Namun, APBI menekankan bahwa kenaikan harga tidak otomatis terjadi karena ada faktor pasokan dari negara lain.
Pada 2025, produksi batu bara nasional tercatat 790 juta ton. Angka ini turun 5,5% dibanding produksi 2024 sebesar 836 juta ton, tetapi masih lebih tinggi dari target yang dipatok sebesar 739,6 juta ton.
“Saya harus jelaskan dalam forum ini agar tidak ada simpang siur, total produksi batu bara kita di 2025 sebesar 790 juta ton,” jelas Bahlil. Sebagian besar produksi disalurkan untuk ekspor, sekitar 514 juta ton atau 65,1% dari total produksi.
Sementara itu, penyaluran untuk pasar domestik (Domestic Market Obligation/DMO) mencapai 254 juta ton atau 32%. Stok batu bara yang dicadangkan sampai akhir 2025 tercatat 22 juta ton atau 2,8% dari total produksi tambang.
Pergerakan Harga Batu Bara dan Proyeksi Pasar
Harga batu bara pada pekan lalu cenderung menanjak. Pada Jumat, 9 Januari 2026, harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan depan ditutup di US$107,4 per ton, naik 0,47% dari hari sebelumnya.
Kenaikan itu menjadi level tertinggi sepanjang perdagangan awal tahun ini. Secara point to point, harga batu bara membukukan kenaikan 0,8% selama pekan lalu.
Namun, secara teknikal dari perspektif mingguan (weekly time frame), batu bara masih berada di zona bearish. Hal ini tercermin dari indeks Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 48, menandakan posisi bearish tapi cenderung netral.
Indikator Stochastic RSI 14 hari ada di level 38, menunjukkan area jual (short) yang kuat. Sementara indikator Average True Range (ATR) 14 hari ada di angka 2, memberi sinyal bahwa volatilitas harga relatif rendah.
Untuk pekan ini, harga batu bara diprediksi bergerak terbatas. Target resisten terdekat berada di level US$108–US$109 per ton, sedangkan level support diproyeksikan pada US$106–US$104 per ton.
Dengan kondisi pasar global yang responsif, penyesuaian produksi Indonesia tidak bisa dilihat sebagai satu-satunya faktor penentu harga. Faktor cadangan dan produksi domestik negara lain juga menentukan pergerakan harga batu bara internasional.
Kondisi ini menegaskan bahwa pasar batu bara sangat sensitif terhadap dinamika global. Produsen Indonesia perlu mempertimbangkan strategi produksi dan ekspor dengan memperhitungkan respons pasar dari China, India, dan negara konsumen lainnya.
APBI menekankan pentingnya melihat pasar secara menyeluruh sebelum membuat kebijakan yang berpotensi memengaruhi harga. Hal ini untuk menghindari ekspektasi harga yang tidak realistis di tengah fluktuasi pasar global.
Pemangkasan produksi menjadi sekitar 600 juta ton tetap menjadi keputusan strategis pemerintah. Namun, dampaknya terhadap harga bergantung pada interaksi kompleks antara pasokan nasional, kapasitas produksi global, dan permintaan internasional.
Dengan perhitungan yang cermat, produsen dan pemerintah diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara produksi, penjualan, dan stabilitas harga. Strategi yang hati-hati diperlukan agar kebijakan produksi tidak menimbulkan dampak negatif bagi pasar domestik maupun ekspor.
Secara keseluruhan, pemangkasan produksi batu bara 2026 harus dipahami bukan sebagai jaminan kenaikan harga. Pendekatan global dan pemahaman pasar internasional menjadi kunci agar keputusan nasional tetap efektif dan proporsional.